Sunday, January 20, 2008

Takutkah kita kepada Allah?

Ketika menyaksikan masuknya seorang hamba Allah ke dalam Islam dengan menyebutkan dua kalimat syahadat, satu pertanyaan mencuat di dalam hati mengenai kesungguhan diri melaksanakan apa yang selalu diucapkan oleh lisan ini. Sudahkah kita (terutama saya) menjalankan syahadat itu dengan benar, atau hanya sekedar perkataan tanpa makna belaka?

Karena sejujurnya mudah saja bagi kita untuk mengatakan dengan lisan ini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan gampang saja untuk kita berjanji tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Namun apakah kita dapat dengan pasti menjalankan kalimat tauhid tadi dengan satu kesungguhan bahwa selain diikrarkan lewat lisan, diyakini dalam hati dan dapat diamalkan dalam perbuatan sehari-hari, kita juga dapat melakukan semua itu dengan semata-mata hanya untuk Allah Subhaanahu wa ta'aala?

Namun di dalam kenyataannya, tanpa disadari ataupun tidak, banyak dari kita yang sudah mempersekutukan Allah dengan atasan, jabatan, kekayaan, suami, istri atau anak, bahkan ada juga yang sudah mempersekutukan Allah dengan ibadah.

Banyak dari kita yang lebih takut kepada atasannya daripada terhadap Allah, suami yang lebih takut dimarahi istri daripada dimurkai Allah, istri yang lebih patuh kepada suami daripada ta'at kepada Allah. Bahkan banyak di antara kita yang lebih memilih melanggar akhlak dan syariat agama daripada kehilangan jabatan dan pekerjaan. Iman bagaikan permainan sehingga dalam beribadah banyak dari kita yang lebih suka di puji orang lain daripada di lihat Allah untuk mendapatkan ganjaran pahala dan ridha-Nya. Hukum Allah diacuhkan demi kepuasan dan menyenangkan manusia.

Banyak dari kita yang menjadi sombong dengan segala nikmat-nikmat yang Allah 'Azza wa Jalla titipkan tersebut, angkuh dengan segala macam karunia dari Allah itu, bahkan kufur dan ingkar kepada Allah serta merasa kalau semua hasil yang didapatkan di dunia ini berasal dari usaha dan jerih payah kita sendiri.

Salah satu bentuk dari ingkar terhadap Allah adalah banyaknya orang-orang yang beribadah bukan untuk mensyukuri nikmat dari Allah melainkan hanya sebatas riya' belaka. Ibadah hanya untuk mengejar pamrih dunia bukan mencari ridha dari Allah, sehingga ibadah tersebut tidak ada ganjarannya melainkan sia-sia dan percuma saja.

Akibatnya ibadah hanya dijadikan sebagai komoditas belaka, sedekah yang bukan karena Allah melainkan hanya sebagai ajang "pamer" belaka. Amal-amal kebajikan dikerjakan hanya untuk mendapatkan pujian dan sanjungan belaka, bukan sebagai sarana perbaikan diri supaya menjadi hamba Allah yang lebih taqwa. Banyak dari kita yang memaksakan pergi haji dengan berbagai macam cara tanpa memperdulikan apakah uangnya bersumber dari tempat halal atau haram. Dan berangkat haji tidak dengan niat untuk mendapatkan keridhaan dari Allah melainkan untuk pamer dan riya' ataupun saja. Bahkan ada yang berangkat haji supaya ingin dihormati dan naik martabatnya di mata masyarakat. Syiar Islam menjadi komersil dan tidak dapat mensejahterakan umat ataupun memuliakan agama Islam sendiri. Dan ilmu dipelajari semata-mata hanya demi mendapatkan selembar ijazah kelulusan dan gaji belaka, bukan untuk diamalkan di jalan yang Allah ridhai.

Kita semua mungkin lupa bahwa Nabi Muhammad Shallalaahu 'Alahi Wasallaam telah mengingatkan bahwa kelak pada Hari Pembalasan, semua manusia akan mendapatkan balasan atas segala amal baktinya semasa hidup. Di antara mereka ada orang-orang yang ahli ibadah dan ahli sedekah, tetapi hal tersebut dikerjakannya karena riya' semata supaya mendapatkan pujian dari manusia lainnya. Sehingga ketika mereka meminta balasan dari kebaikannya tersebut, Allah 'Azaa wa Jalla menjawab:

Idzhabuu ilal ladziina kuntum turaa-uuna fid dunya fandzuruu hal tajiduuna 'indahum jazaa-a.

"Pergilah kamu semua kepada orang-orang yang waktu di dunia kamu beramal karena riya' bagi mereka, lihatlah apakah kamu akan mendapat balasan dari mereka?"

Begitulah ancaman dari Allah terhadap orang-orang yang ketika hidup di dunia mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain ketika mengerjakan perbuatan amal. Tanya mengapa?

Karena amal yang tidak ikhlas pada hakikatnya dilandasi oleh hati yang kurang meyakini keEsaan Allah, sehingga membutuhkan sesuatu selain Allah yang pada akhirnya akan menjadi sarana masuknya penyakit-penyakit hati seperti dengki, hasud, fitnah dan iri hati, sehingga keserakahan dan kesombongan akan menggerogoti diri dan jauh dari mendapatkan kerelaan Allah Ta'aala.

Maka peliharalah diri ini untuk senatiasa melakukan segala sesuatunya hanya untuk Allah semata, sebab hanya Allah yang dapat menolong kita bukan lainnya. Dan Allah hanya akan menurunkan pertolongannya kepada mereka yang telah belajar dan berusaha untuk selalu mengikhlaskan hati nuraninya dengan iman kepada-Nya. Di saat itulah kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita tidak sendiri walaupun sedang sendiri, dan kita mempunyai penolong walaupun terkesan tidak ada penolong, yaitu satu-satunya sahabat dan penolong yang abadi hanyalah Allah 'Azza wa Jalla.




No comments: