Suatu hari di Basrah pernah kedatangan seorang lelaki yang tampaknya sangat alim sehingga banyak orang yang menyangka kalau lelaki itu adalah seorang wali, sehingga penduduk kota Basrah mulai memuja-muja lelaki tadi dikarenakan melihat pakaiannya yang serba takwa. Jubahnya tebal, sorbannya panjang dan biji tasbihnya yang besar-besar. Lelaki itu begitu dihormati, dan penduduk kota banyak yang memberikan sedekah kepadanya, sehingga dalam waktu singkat lelaki itu pun menjadi kaya raya. Akan tetapi, hingga saatnya ia akan meninggalkan kota tersebut, sang lelaki yang tampak seperti wali itu belum pernah memberikan satu ilmu pun kepada warga Basrah.
Hal itu membuat al-Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah ingin mencari tahu siapakah gerangan lelaki tersebut, dan sejauh mana ketakwaan dan kealimannya terhadap Allah Ta'aala. Maka didatanginya "wali" tersebut di penginapannya, dan setelah ketemu maka al-Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah bertanya kepada lelaki itu, "Darimana tuan memperoleh derajat kewalian?"
Lelaki tadi dengan congkak dan pongahnya menjawab, "Dari Tuhan."
Dengan ucapan sesingkat itu, maka al-Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah dapat segera mengetahui bahwa lelaki tersebut bukan seorang wali melainkan hanya penipu belaka. Karena seharusnya yang pantas diucapkan olehnya adalah dengan berkata, "Ma'af saya bukan wali." Sebab tidak ada seorangpun yang mengaku dirinya wali adalah benar-benar seorang wali. Derajat kewalian tidak pernah disadari oleh yang bersangkutan, derajat kewalian hanya dirasakan oleh orang-orang yang memahami betapa beratnya menjadi orang shalih yang memilih kebajikan bagi orang lain daripada mengambil keuntungan buat diri sendiri.
Untuk itu maka al-Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah mengatakan,
Lisaanul 'aaqili min waraa-i 'aqlihi wa idzaa araadal kalaama tafakkara, fa in kaana lahu qaala, wa in kaana 'alaihi sakata, wa qalbul ahmaqi min waraa-i lisaanihi faidzaa araada an yaquula qaala.
"Lidah orang berakal itu terletak di belakang akalnya, jika ia hendak berkata dipikirkannya dahulu, kalau perkataan itu kira-kira akan bermanfa'at baginya maka ia akan mengucapkannya, kalau dirasakannya akan membahayakan dirinya ia memilih diam, sedangkan hati orang yang dungu terletak di belakang lidahnya, jika ia mau berkata langsung saja diucapkannya."
Man kaana yu-minu billaahi wal yaumil aakhiri falyaqul khairan aw liyashmut
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat ucapkanlah yang bermanfa'at atau lebih baik diam saja."
Untuk itu maka al-Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah mengatakan,
Lisaanul 'aaqili min waraa-i 'aqlihi wa idzaa araadal kalaama tafakkara, fa in kaana lahu qaala, wa in kaana 'alaihi sakata, wa qalbul ahmaqi min waraa-i lisaanihi faidzaa araada an yaquula qaala.
"Lidah orang berakal itu terletak di belakang akalnya, jika ia hendak berkata dipikirkannya dahulu, kalau perkataan itu kira-kira akan bermanfa'at baginya maka ia akan mengucapkannya, kalau dirasakannya akan membahayakan dirinya ia memilih diam, sedangkan hati orang yang dungu terletak di belakang lidahnya, jika ia mau berkata langsung saja diucapkannya."
Oleh karena itu, junjungan kita Nabi Muhammad Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam bersabda dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyalaahu 'Anhu,
Man kaana yu-minu billaahi wal yaumil aakhiri falyaqul khairan aw liyashmut
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat ucapkanlah yang bermanfa'at atau lebih baik diam saja."
No comments:
Post a Comment