Pada suatu pagi, sayyidina Ali bin Abi Thalib Radyhillaahu 'Anhu bergegas keluar dari kediamannya untuk mengejar shalat Subuh berjama'ah di masjid Nabawi, yang mana Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam selalu menjadi Imam shalatnya.
Tetapi setibanya di jalan menuju ke masjid, dihadapan beliau ada seorang kakek sedang tertatih-tatih berjalan menempuh arah yang sama. Dan sesuai dengan ajaran dari Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam yang notabene adalah ajaran Islam maka sayyidina Ali bin Abi Thalib Radyhillaahu 'Anhu tidak berani melewati kakek itu, sehingga beliau tetap berjalan dibelakangnya. Padahal kakek tadi itu berjalan sangat pelan dan membuat sayyidina Ali bin Abi Thalib Radyhillaahu 'Anhu harus melangkah dengan pelan juga, hingga ketika tiba di masjid Nabawi waktu Subuh sudah hampir usai. Dan kakek itu terus saja melanjutkan perjalanannya dikarenakan ia seorang Yahudi. Sementara sayyidina Ali Radyhillaahu 'Anhu tergesa-gesa masuk ke dalam masjid dengan satu asumsi kalau shalat berjama'ah sudah selesai.
Namun alangkah terkejut dan gembiranya beliau dikarenakan pada sa'at itu Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam masih ruku' dalam raka'at yang kedua. Dan dengan begitu, maka sayyidina Ali Radyhillaahu 'Anhu pun masih berkesempatan untuk makmum dibelakangnya.
Setelah shalat selesai, maka Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam duduk dengan dikelilingi oleh para sahabat-sahabatnya. Tak lama kemudian sayyidina Umar bin Al-Khatab Radyhillaahu 'Anhu mewakili para sahabat yang lain bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam, "Ya Rasulullah, mengapa shalat Subuh kita berbeda pagi ini?"
Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam menjawab, "Apa maksudmu wahai sahabatku?"
Sayyidina Umar bin Al-Khatab Radyhillaahu 'Anhu menjelaskan, "Biasanya engkau ruku' pada raka'at yang kedua tidak selama kali ini. Tetapi tadi engkau ruku' lama sekali sampai punggung kami pegal semuanya. Mengapa demikian, ya Rasulullah?"
Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam menggelengkan kepala seraya menjawab, "Aku tidak tahu Umar. Cuma pada waktu sedang ruku' pada raka'at kedua, malaikat Jibril 'Alaihi Salaam tiba-tiba mucul dan menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun untuk i'tidal."
Mendengar ulasan dari Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam tadi, membuat sayyidina Umar bin Al-Khatab Radyhillaahu 'Anhu dan para sahabat lainnya semakin tambah keheranan, dan sayyidina Umar Radyhillaahu 'Anhu pun bertanya kembali, "Kenapa Jibril 'Alaihi Salaam berbuat demikian ya Rasulullah?"
Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam kembali menggeleng sambil berkata, "Aku belum tahu juga sebabnya. Jibril 'Alahi Salaam belum menerangkannya kepadaku."
Dengan izin dari Allah Subhanaahu wa Ta'aala maka tidak berapa lama kemudian Sang Ruhul Kudus malaikat Jibril 'Alaihi Salaam pun turun menemui kekasih-Nya. Dan setelah mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam maka malaikat Jibril 'Alaihi Salaam menjelaskan bahwa ketika ia menahan punggung beliau di waktu sedang ruku' dalam raka'at kedua tadi adalah untuk melaksanakan perintah Allah Rabbul'aalamiin supaya Ali bin Abi Thalib Radyhillaahu 'Anhu memperoleh kesempatan berjama'ah dengan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam.
Hal itu dikarenakan Allah Ta'aala menghormati sikap dari sayyidina Ali bin abi Thalib Radyhillaahu 'Anhu yang menta'ati perintah agamanya supaya menghargai semua orang yang sudah tua sampai tidak berani melewati kakek Yahudi tadi. Dimana kakek itu berjalan sangat pelan, dan hampir membuat sayyidina Ali bin Abi Thalib pun hampir telambat tiba di masjid untuk shalat berjama'ah.
Penghormatan sayyidina Ali Radyhillaahu 'Anhu kepada kakek beragama Yahudi itulah yang dihargai Allah 'Azza wa Jalla, sebab memang begitulah ajaran Islam yang diturunkan oleh-Nya kepada makhluk yang paling mulia dan pemungkas para Nabi, Rasulullah Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam untuk disebarluaskan kepada umat terbaik akhir zaman.
Apa yang dicontohkan oleh sayyidina Ali bin Thalib Radyhillaahu 'Anhu itulah yang harus senantiasa terjaga supaya tetap tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan umat Islam. Saling menghormati dan bersepakat dalam norma-norma yang sama tanpa harus bersilang-sengketa dalam perbedaan, karena itu adalah tasamuh atau toleransi Islami.
Kita sebagai umat dari Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam dituntut supaya dapat bersikap bijaksana dalam menghadapi sesama manusia, dan tetap berlaku santun sesuai etika walau berbeda pandangan hidup dengan komunitas dari agama lain tanpa perlu melakukan hal-hal yang melewati batas kewajaran. Dan kita juga tidak perlu menjual keimanan kita dengan membenarkan keyakinan agama mereka, sebab kita pun tidak perlu menyalahkan keyakinan itu berdasarkan firman Allah Ta'aala dalam surah Al Kaafiruun (109) ayat 6,
Lakum diinukum wa liya diin.
"Bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku."
Dengan jelas Allah Tabaraakta wa Ta'aala menunjukkan keluasan ajaran Islam dalam bertoleransi dengan tidak memaksakan agama Islam kepada orang-orang, namun setiap masing-masing orang dapat melaksanakan tuntutan agamanya serta tidak perlu mencampur-adukkan ajaran agama yang satu dengan yang lainnya.
Bahkan Allah Ta'aala menjelaskan lebih indah lagi ketoleransian ajaran Islam dalam salah satu firman-Nya dalam Al-Qur'an di surah Al An'aam (6) ayat 108,
Wa laa tasubbulladziina yad'uuna min duunillaahi fa yasubbullaaha 'adwam bi ghairi 'ilmin
"Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, maka mereka akan memaki Allah dengan permusuhan tanpa pengetahuan."
Allah Subhanaahu wa Ta'aala telah mengingatkan kita dalam firman-Nya untuk tidak mencerca orang-orang yang berdo'a kepada sesuatu selain Allah dikarenakan nanti mereka akan pun akan balas mencaci Allah dengan penuh permusuhan tanpa di dukung oleh sandaran ilmu yang cukup. Dan disinilah kita sebagai umat terbaik yang Allah ciptakan, perlu untuk mempunyai toleransi dengan sesama manusia lainnya walau pun berbeda agama. Jadikan diri ini sebagai satu sosok yang penuh dengan toleransi Islami.
Tetapi setibanya di jalan menuju ke masjid, dihadapan beliau ada seorang kakek sedang tertatih-tatih berjalan menempuh arah yang sama. Dan sesuai dengan ajaran dari Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam yang notabene adalah ajaran Islam maka sayyidina Ali bin Abi Thalib Radyhillaahu 'Anhu tidak berani melewati kakek itu, sehingga beliau tetap berjalan dibelakangnya. Padahal kakek tadi itu berjalan sangat pelan dan membuat sayyidina Ali bin Abi Thalib Radyhillaahu 'Anhu harus melangkah dengan pelan juga, hingga ketika tiba di masjid Nabawi waktu Subuh sudah hampir usai. Dan kakek itu terus saja melanjutkan perjalanannya dikarenakan ia seorang Yahudi. Sementara sayyidina Ali Radyhillaahu 'Anhu tergesa-gesa masuk ke dalam masjid dengan satu asumsi kalau shalat berjama'ah sudah selesai.
Namun alangkah terkejut dan gembiranya beliau dikarenakan pada sa'at itu Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam masih ruku' dalam raka'at yang kedua. Dan dengan begitu, maka sayyidina Ali Radyhillaahu 'Anhu pun masih berkesempatan untuk makmum dibelakangnya.
Setelah shalat selesai, maka Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam duduk dengan dikelilingi oleh para sahabat-sahabatnya. Tak lama kemudian sayyidina Umar bin Al-Khatab Radyhillaahu 'Anhu mewakili para sahabat yang lain bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam, "Ya Rasulullah, mengapa shalat Subuh kita berbeda pagi ini?"
Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam menjawab, "Apa maksudmu wahai sahabatku?"
Sayyidina Umar bin Al-Khatab Radyhillaahu 'Anhu menjelaskan, "Biasanya engkau ruku' pada raka'at yang kedua tidak selama kali ini. Tetapi tadi engkau ruku' lama sekali sampai punggung kami pegal semuanya. Mengapa demikian, ya Rasulullah?"
Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam menggelengkan kepala seraya menjawab, "Aku tidak tahu Umar. Cuma pada waktu sedang ruku' pada raka'at kedua, malaikat Jibril 'Alaihi Salaam tiba-tiba mucul dan menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun untuk i'tidal."
Mendengar ulasan dari Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam tadi, membuat sayyidina Umar bin Al-Khatab Radyhillaahu 'Anhu dan para sahabat lainnya semakin tambah keheranan, dan sayyidina Umar Radyhillaahu 'Anhu pun bertanya kembali, "Kenapa Jibril 'Alaihi Salaam berbuat demikian ya Rasulullah?"
Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam kembali menggeleng sambil berkata, "Aku belum tahu juga sebabnya. Jibril 'Alahi Salaam belum menerangkannya kepadaku."
Dengan izin dari Allah Subhanaahu wa Ta'aala maka tidak berapa lama kemudian Sang Ruhul Kudus malaikat Jibril 'Alaihi Salaam pun turun menemui kekasih-Nya. Dan setelah mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam maka malaikat Jibril 'Alaihi Salaam menjelaskan bahwa ketika ia menahan punggung beliau di waktu sedang ruku' dalam raka'at kedua tadi adalah untuk melaksanakan perintah Allah Rabbul'aalamiin supaya Ali bin Abi Thalib Radyhillaahu 'Anhu memperoleh kesempatan berjama'ah dengan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam.
Hal itu dikarenakan Allah Ta'aala menghormati sikap dari sayyidina Ali bin abi Thalib Radyhillaahu 'Anhu yang menta'ati perintah agamanya supaya menghargai semua orang yang sudah tua sampai tidak berani melewati kakek Yahudi tadi. Dimana kakek itu berjalan sangat pelan, dan hampir membuat sayyidina Ali bin Abi Thalib pun hampir telambat tiba di masjid untuk shalat berjama'ah.
Penghormatan sayyidina Ali Radyhillaahu 'Anhu kepada kakek beragama Yahudi itulah yang dihargai Allah 'Azza wa Jalla, sebab memang begitulah ajaran Islam yang diturunkan oleh-Nya kepada makhluk yang paling mulia dan pemungkas para Nabi, Rasulullah Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam untuk disebarluaskan kepada umat terbaik akhir zaman.
Apa yang dicontohkan oleh sayyidina Ali bin Thalib Radyhillaahu 'Anhu itulah yang harus senantiasa terjaga supaya tetap tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan umat Islam. Saling menghormati dan bersepakat dalam norma-norma yang sama tanpa harus bersilang-sengketa dalam perbedaan, karena itu adalah tasamuh atau toleransi Islami.
Kita sebagai umat dari Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam dituntut supaya dapat bersikap bijaksana dalam menghadapi sesama manusia, dan tetap berlaku santun sesuai etika walau berbeda pandangan hidup dengan komunitas dari agama lain tanpa perlu melakukan hal-hal yang melewati batas kewajaran. Dan kita juga tidak perlu menjual keimanan kita dengan membenarkan keyakinan agama mereka, sebab kita pun tidak perlu menyalahkan keyakinan itu berdasarkan firman Allah Ta'aala dalam surah Al Kaafiruun (109) ayat 6,
Lakum diinukum wa liya diin.
"Bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku."
Dengan jelas Allah Tabaraakta wa Ta'aala menunjukkan keluasan ajaran Islam dalam bertoleransi dengan tidak memaksakan agama Islam kepada orang-orang, namun setiap masing-masing orang dapat melaksanakan tuntutan agamanya serta tidak perlu mencampur-adukkan ajaran agama yang satu dengan yang lainnya.
Bahkan Allah Ta'aala menjelaskan lebih indah lagi ketoleransian ajaran Islam dalam salah satu firman-Nya dalam Al-Qur'an di surah Al An'aam (6) ayat 108,
Wa laa tasubbulladziina yad'uuna min duunillaahi fa yasubbullaaha 'adwam bi ghairi 'ilmin
"Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, maka mereka akan memaki Allah dengan permusuhan tanpa pengetahuan."
Allah Subhanaahu wa Ta'aala telah mengingatkan kita dalam firman-Nya untuk tidak mencerca orang-orang yang berdo'a kepada sesuatu selain Allah dikarenakan nanti mereka akan pun akan balas mencaci Allah dengan penuh permusuhan tanpa di dukung oleh sandaran ilmu yang cukup. Dan disinilah kita sebagai umat terbaik yang Allah ciptakan, perlu untuk mempunyai toleransi dengan sesama manusia lainnya walau pun berbeda agama. Jadikan diri ini sebagai satu sosok yang penuh dengan toleransi Islami.
No comments:
Post a Comment