Mungkin ada dari kita yang pernah ingin pergi ke suatu tempat, misalkan dalam rangka ibadah dan silaturahmi, namun dikarenakan keterbatasan biaya hingga harus menumpang atau ikut dengan kendaraan orang lain atau seorang kawan.
Namun bagaimana rasanya bila keberangkatan kita yang dalam rangka ibadah tersebut akhirnya tidak jadi terlaksana dikarenakan kawan yang kita ingin tumpangi kendaraannya tadi merasa bahwa ada orang yang lebih berhak dari kita untuk menumpang kendaraannya dan akhirnya mereka berangkat bersama-sama menuju ke tempat itu.
Sehingga walaupun sama-sama mempunyai keinginan untuk beribadah, dan sama-sama sedang tidak ada uang tetapi dikarenakan seseorang merasa bahwa diri kita terlihat “lebih mampu” maka akhirnya kita ditinggalkan dan tidak diikutsertakan untuk pergi. Dan yang lebih menyedihkan, ternyata orang yang menentukan kita dapat berangkat atau tidaknya adalah seseorang yang sudah kita anggap sebagai teman sejati, di mana ada pengharapan dari diri ini untuk bisa bersama-sama pergi dengannya, tetapi apa yang diharapkan ternyata lain hasilnya. Dipastikan ada sedikit kekecewaan di dalam hati ini.
Mungkin kekecewaan itu bukan karena ditinggalkan atau tidak diberangkatkan bersama-sama. Namun sebuah rasa kecewa tersebut dikarenakan adanya satu harapan yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh diri ini dimana sebenarnya ada satu keyakinan kalau “teman sejati” tadi tidak akan pilah-pilih melainkan semua mempunyai kesempatan yang sama untuk berangkat. Dan itulah yang dinamakan kecewa dengan pengharapan, yaitu apa yang sudah diinginkan dan dicita-citakan oleh seseorang, sudah diharapkan akan berjalan sesuai keinginan kita, tetapi pada akhirnya meleset dari perkiraan dengan satu alasan yang tak terduga.
Dan dapat dikatakan kalau itu adalah hasil bila kita menyandarkan pengharapan dan mempunyai keinginan kepada manusia. Karena besar kemungkinan kalau apa yang kita inginkan itu tidak sejalan dengan keinginan dari orang lain, meskipun orang tersebut sudah seperti seorang kawan dekat, sahabat atau pun teman sejati.
Di dalam Islam sekarang ini setelah era Rasulullah Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallaam tidak ada lagi yang namanya sahabat atau teman sejati. Bahkan sepeninggalan beliau, para sahabat Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam pun yang tadinya akrab dapat saling perang dan bunuh membunuh. Tercatat ada perang Jamal atau perang Unta antara sayyidinna Ali Radhyilaahu 'Anhu dengan sahabat Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam yakni Zubair bin Awwam Radhyilaahu 'Anhu & Thalhah Radhyilaahu 'Anhu beserta sayyidah Siti ‘Aisyah Radhyilaahu 'Anhu. Juga ada perang Shiffin antara khalifah Ali bin Abi Thalib Radhyilaahu 'Anhu melawan Mu’awiyah bin Abu Sufyan Radhyilaahu 'Anhu. Pembunuhan atas khalifah ‘Utsman bin Affan Radhyilaahu 'Anhu oleh gerombolan pemuda Islam dari Mesir yang salah satu diantaranya terdapat anak dari sahabat Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam, Muhammad bin Abu Bakar as-Shiddiq. Dan berbagai macam kejadian lainnya setelah Islam ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa sallaam.
Untuk itu kita sebagai hamba-hamba Allah tidak dapat untuk menggantungkan harapan kepada sesama makhluk Allah, dan hanya Allah sebaik-baiknya tempat yang tidak akan pernah menolak segala keinginan dari ciptaan-Nya. Hanya Allah yang dapat kita jadikan sebagai sahabat sejati, teman dalam senang dan susah, kekasih yang tidak pernah capek dan bosan mendengar keluhan dari kita. Hanya Allah tempat kita mengadu, dan hanya Allah yang tidak pernah memandang diri kita sebagai satu sosok yang kaya atau tidak, tua atau muda, bagus atau jelek dan lain-lain melainkan hanya hati dan amal kita yang dilihat-Nya. Hanya Allah yang dapat menyelematkan kita, baik di dunia ataupun nanti di Akhirat bukan makhluk lain.
Allah Subhaanahu wa Ta''aala berfirman dalam Al-Qur'an di surah Thaahaa (20) ayat 14:
Innanii anallaahu laa ilaaha illaa ana fa' budnii wa aqimish shalaata li dzikrii
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku."
Oleh karena, jadikanlah diri ini untuk senantiasa meminta kepada Allah Ta’aala agar dapat diberikan keyakinan yang sungguh-sungguh kepada-Nya. Yakin kepada Allah dengan dilandasi oleh Iman dan taqwa yang sebenar-benarnya tanpa ada rasa pamrih sedikit pun didalamnya. Dan semoga Allah menggolongkan kita sebagai hamba-hamba yang akan memasuki surga dengan ridha-Nya. Amiin.
No comments:
Post a Comment